Peringatan HARDIKNAS 2 Mei semarak dengan demo dimana-mana. Isinya kurang lebih tentang pendidikan yang semakin mahal “Mau Pinter Kok Mahal”, “si miskin yang makin tersingkir dari panggung pendidikan”. Adalah PR buat kita semua untuk mewujudkan pendidikan murah namun berkualitas. Sulit? Pasti, becoz nothing easy, tapi apa tidak mungkin? Mungkin sekali, becoz nothing is imposibble in the world. Sekedar sebagai bahan perbandingan, berikut ini ada tulisan ringkas mengenai sistem dan kondisi sekolah dasar di Jepang. Semoga pendidikan kita sedang menuju ke arah yang lebih baik.

1. Subsidi Pendidikan

Wajib belajar hingga SLTA masih terus diterapkan di Jepang, dan untuk itu subsidi pendidikan terus dikucurkan pemerintah, sehingga siswa hanya membayar “makan siang” sementara buku pelajaran dan fasilitas pendidikan dibiayai. Di Indonesia? BOS aja dikorup, maklum rakyat Indonesia sudah menganut aliran kleptokrasi

2. Fasilitas

Kompleks bangunan SD negeri sangat standar, lengkap dengan multi function hall buat OR dan pentas seni, kolam renang, lapangan sepakbola. Ruang kelas juga standar, ada TV, DVD player, piano elektrik, media praktek untuk pelajaran dan OR. Satu kelas ada 30 an anak. Di Indonesia, jangan berharap macam-macam, gedung masih berdiri tegak harus disyukuri. Lihat saja berapa gedung yang rusak bahkan ambruk. Di Jakarta, yang dekat dengan Presiden saja masih luput dari perhatian, apalagi yang ada di daerah. Bahkan hingga memakan korban jiwa, sangat “mengagumkan” Indonesia.

3. Kurikulum Sekolah

Keseimbangan antara otak kiri dan kanan sangat dijaga, sehingga jam pelajaran di kelas, praktek di luar kelas, pentas kesenian, olahraga (cukup berat bagi tingkat SD sampai belajar sepeda roda satu) diajarkan. Jumlah mata pelajaran lebih kurang 2/3 dari SD Indonesia, dan sarat dengan ajaran budi pekerti. Pentas seni sekolah 2 kali setahun dan semua siswa tampil dengan penonton semua ortu dan keluarganya. Di kita, pelajaran bejibun ampe stress segala kalau mau ujian, tapi tetep ga’ bikin Indonesia maju, malah terus meningkat (digitnya nambah maksudnya), menjadi negara yang mutu pendidikannya terus memburuk, kalah sama Vietnam.

4. PR

Siswa juga diberi pe-er dan orang tua diharuskan mengetahui bahwa pe-er sudah dilaksanakan, tentu dengan porsi yang pantas. Sabtu memang libur, tapi siswa tetap diberi tugas kelompok, misalnya berkunjung ke museum dan diharuskan menulis laporan.

5. Standar Guru

Hampir sama dengan SD waktu saya dulu sekolah, satu kelas ditangani oleh 1 guru. Bedanya, guru di sana memiliki standar yang lumayan tinggi. Guru tersebut harus menguasai semua mata pelajaran, termasuk bisa main piano, bisa praktek olahraga (tetap dengan bantuan pengawas). Hebat ya, benar-benar jadi role model, pantes kalo gajinya sebesar dosen. Di Indonesia? Demo kenaikan gaji, minta diangkat PNS, itu yang menjadi tuntutan utama tapi kinerja????Tapi yang benar2 kinerjanya oke luput dari perhatian. Seperti siswa yang unik, guru juga unik, harusnya diperlakukan sesuai kompetensinya, yang lebih bagus ya diberi reward…anggaran 20% untuk pendidikan aja ga’ terealisasi sampai saat ini, gmn mau maju ya?

6. Peran Guru

Guru mempersiapkan kelas sejak pagi, dan mempersiapkan materi untuk esok harinya. Rata-rata para guru pulang dari sekolah pukul 6 sore. Guru adalah moderator di kelas, dan murid aktif dengan diskusi. Tapi gaji guru memang sangat pantas, malahan konon tak jauh beda dengan dosen perguruan tinggi. Bila ada siswa yang ngga’ masuk, maka guru akan menelpon ortunya, dan saat pulang akan berkunjung ke rumah siswa. Keren ya….Benar-benar jadi public service, give the best, ga’ setengah-setengah menjadi “pelayan” siswa. Ini yang membuat guru makin dihormati karena terhadap orang lain sangat menghargai. Indonesia perlu dicontoh ne hal kecil begini. Harus ada anggaran lebih untuk telpon atau home visit. Pulang jam berapapun juga mau kalo gaji sebesar dosen.

7. Kunjungan Sekolah dan PTA

Sebulan sekali ada open kelas, dan orang tua bisa melihat dengan langsung kegiatan di dalam kelas. Ada Parent Teacher Association (PTA) dimana para ortu bertemu dan berembug demi kemajuan siswa. Keberhasilan siswa memang tidak bisa luput dari peran orangtua. Harus ada kerjasama yang sinergis antara sekolah, guru, staf, dan siswa dalam proses pembelajaran, it will make our children grow and learn in a positive atmosphere. Sekolah harus membuka diri akan kritik, pro perubahan merupakan salah satu ciri esensial jika kita mau sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

8. Pekan OR

Di kita ada Class Meeting dimana para siswa bertanding OR. Yang pinter basket ya basket, yang pinter ping-pong ya bertanding ping-pong. Lalu yang ngga bisa apa-apa yang jadi penonton. Sementara di Jepang bila ada acara tersebut (Undokai) maka semua siswa ikut terlibat. Mereka dibagi menjadi 4 s/d 5 kelompok yang campur dari unsur kelas 1 s/d 6 (group merah, kuning, putih..dsb). Jadi semua ikut terlibat, dan bahkan yang cacat badan.

9. Rayoninasi

Sistem Rayon juga diterapkan dan dapat berlangsung dengan nyaman karena standar SD sama. Hampir semua siswa dapat bersekolah dengan jarak capai pantas dengan berjalan kaki. Kalau di Kita sekolah-sekolah berlomba-lomba menjadi yang terbaik “sendirian”, karena tidak ada standar , sehingga atmosfer persaingan sangat terasa. Harusnya bukan bersaing tapi saling melengkapi. Itu mungkin yang membuat beberapa tahun lalu banyak SD yang merger dengan SD lain, karena kekurangan murid. Huh………

di Indonesia, pendidikan telah dipolitisir. Ganti menteri ganti kebijakan, semua demi kepentingan yang ga’ jelas. Setuju dengan pernyataan Pak Iwan di JP kemarin (Sabtu, 3 Mei 2008), perlu pendidkan hati nurani. Selama ini kita mengedepankan mind dan mematikan hati nurani. Pembakaran masjid Ahmadiyah, penyiksaan terhadap anak, korupsi, sogok menyogok, tawuran antar desa, perusakan kampus–anarkisme adalah hasil dari pendidikan kita yang berorientasi hasil, tidak menghargai proses. Maju terus pendidikan Indonesia

Kredit: dewisang

Silahkan dibaca, bukan salah ketik lo

Menuurt sbeauh penilitean di Cmabrigde Uinervtisy, tdaik mejnadi maslaah bgaimanaa urtaun huurf-huurf di dlaam sebauh ktaa, ynag palngi pnteing adlaah leatk hruuf partema dan terkhair itu bnaer. Ssianya dpaat brantaaken smaa skelai dan kmau maish dpaat mebmacanya tnpaa msaalah. Hal ini kerana oatk masunia tdaik mambeca seitap huurf msaing-msaing, tatepi ktaa kesuleruhan


Manejkubakn buakn?


English

Aoccdrnig to a rscheearch at an Elingsh uinervtisy, it deosn’t mttaer in waht oredr the ltteers in a wrod are, the olny iprmoetnt tihng is taht frist and lsat ltteer is at the rghit pclae. The rset can be a toatl mses and you can sitll raed it wouthit porbelm. Tihs is bcuseae we do not raed ervey lteter by itslef but the wrod as a wlohe.


Kredit: chococinno

Prof Nagano Staf pengajar Nihon University memberikan kuliah intensive course dalam bidang Asian Agriculturedi IDEC Hiroshima University. Beliau sering menjadi konsultan pertanian di Negara2 Asia termasuk Indonesia.

Ada beberapa hal yang menggelitik yang beliau utarakan sewaktu membahas tentang Indonesia:

1. Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam.

Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali, saling kritik, dan merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda2 padahal tujuannya program tersebut sebetulnya baik.

2. Budaya Jam Karet.

Selain dari beliau saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang asing yang pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab jam Karet! Sayatertawa tapi sebetulnya malu dalam hati. Sudah sebegitu parahkah disiplin kita.

3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?)

Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa ditunda besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya sendiri tentang orang Indonesia. Beliau mengatakan, Orang Indonesia mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.

4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan.

Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para petani, pendampingnya dari direktorat pertanian datang dengan safari lengkap padahal beliau sudah datang dengan “work wear” beserta sepatu boot. Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke lapang, kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau turun langsung ke lapangan.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina bobokan oleh istilah indonesia kaya, masyarakatnya suka gotong royong, ada pancasila, agamanya kuat, dll. Dan itu hanyalah istilah, kenyataannya bisa kita lihat sendiri. Kita selalu senang dengan istilah tanpa action.

Kita terlalu banyak diskusi,saling lontar ide, kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum apa2 sudah ramai duluan. Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan2 kita dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya sudah mencapai titik minimal untuk disebut negara beradab dan tetap terbelakang disegala bidang.

Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua, terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu merubah diri untuk menjadi yang lebih baik.

Kredit: tetsugakutekina

  1. “Rakyat Indonesia Itu Kreatif” ketika harga Gas Elpiji semakin melejit, para distributor mengakalinya dengan mengurangi isi gas dalam tabung dan memasukannya kembali ke tabung lainnya. Berarti ibaratnya yang seharusnya mereka mendapat keuntungan dari 5 tabung, dengan cara ini mereka bisa mendapat keuntung 6 tabung atau lebih.
  2. “Rakyat Indonesia Itu Kreatif” waktu harga BBM naek, ada salah satu SPBU yang mengoplos bensin yang dijualnya dengan air. Mogok-mogok tuh yang pake bensinnya.
  3. “Rakyat Indonesia Itu Kreatif” daging ayam dan daging sapi yang kecil dan beratnya pun ringan dengan keahlian khusus disulap menjadi daging yang lebih berbobot dengan menyuntikan atau meng-gelonggong-nya dengan air.
  4. “Rakyat Indonesia Itu Kreatif” daging ayam yang udah jadi sampah aja bisa didaur ulang menjadi makanan lagi dan dijual dipasar, coba aja liat mana ada diluar sana ide kreatif kaya gini.
  5. “Rakyat Indonesia Itu Kreatif” anda punya jaket kulit? Pernah terfikir untuk makan makanan dari bahan itu? Haha,., semakin kreatif, limbah jaket kulit pun disulap menjadi makanan *****.
  6. “Rakyat Indonesia Itu Kreatif” saat harga makanan melambung tinggi beberapa kaum memilih makan yang sudah kadaluarsa untuk dikonsumsi sehari-sehari, mungkin yang ada difikirannya “dari pada ga makan sama sekali”

Namun kita juga harus berterima kasih kepada pemerintah, karena semua “ke-kreatif-an” rakyat indonesia itu tidak lepas dari “ke-kreatif-an” pemerintah yang terus menerus menaikan bahan kebutuhan pokok yang menjadikan rakyatnya “kreatif”. Sayangnya semua “ke-kreatif-an” itu hanya ada dalam TANDA KUTIP. Sekian,.,.,.

RAKYAT INDONESIA ITU BAIK….

Kredit: bandot tua

Jika anda merasa ragu memilih platform blogger atau wordpres….kah?, tulisan ini mungkin akan membantu anda untuk memutuskan, di sini akan di bahas keunggulan dan kekurangan dari masing – masing platform tersebut.

Blogger

Keunggulang Google’s free blog service :

  • Anda tidak membutuhkan hosting karena Google yang meng-hosting blog anda.
  • Hampir mustahil untuk meng-hack Blogger.
  • Anda tidak mempunyai batas bandwidth dan diskspace.
  • Semakin banyak pengunjung blog anda maka semakin banyak uang yang anda dapatkan.
  • Anda dapat menyimpan gambar dan file javascript di Google dan gratis
  • Bekerja lebih cepat dibandingkan dengan situs lain.
  • Dapat dengan mudah dioptimalkan.
  • Blogger kaya dengan gadgets.
Kelemahan Blogger:
  • Lebih sedikit pengembangan dan rancangan untuk Blogger dibandingkan dengan WordPress.
  • Karakter di dalam postingan URL dibatasi.
  • Bukanlah desain majalah profesional.
  • Anda tidak bisa membuat sub-kategori dan tags agar SEO mudah ditemukan

WordPress

Keunggulan WordPress engine :

  • Ada ribuan templates untuk WordPress
  • Dapat dikembangkan oleh para pengguna
  • Ada ratusan widgets untuk WordPress
  • Dapat dilakukan Full SEO friendly dengan SEO widgets
  • Ada template surat kabar yang membuat WordPress lebih profesional
  • Advance Panel Kontrol
  • Gratis, blog anda tidak bisa dikunci atau dihapus oleh “spam”.
  • Anda dapat mengubah URL postingan untuk SEO yang lebih baik

Kelemahan WordPress :

  • Anda harus membayar hosting jika anda ingin menggunakan domain sendiri
  • Blog anda dapat di “hack”.
  • Anda mempunyai batas-batas seperti bandwitdh dan diskspace.
  • Semakin banyak pengunjung blog anda maka semakin besar biaya yang dibutuhkan.
  • Semakin banyak plugins yang anda pasang, maka akan semakin lambat kerjanya.

Thats all i experienced, saya menggunakan Blogger dan saya memakai WordPress, karena keduanya mempunyai pesona yang berbeda, ibarat memilih Luna Maya atau Sandra Dewi……….. bingung… mending dipoligami ajah…wakakakkakaka.

kredit: gosublogger